Sering kubertanya, mengapa Risha? Mengapa bukan Raisha?
Mengapa Amilia? Mengapa bukan Amalia?
Mengapa Pratiwi? Mengapa bukan Pertiwi?
Dan kenapa dipanggil Ica? Mengapa bukan Riri?
Oh, aku tidak tahu menahu hal apa yang melatarbelakangi almarhum kakek untuk menyematkan
selembar nama “Risha Amilia Pratiwi” padaku, tentunya selain pengokohan bahwa Risha adalah putri
Ibu Risnayati dan Bapak Halim.
Dan hari ini, setelah hampir 19 tahun, sebuah pesan tak sengaja kutemukan.
Inilah dia :
……………………..
Risha Amilia Pratiwi “Ica” —-> R-A-P-I
Itu dia !! RAPI !!!
Risha, pernah nggak mengalami kejadian-kejadian ini:
Pagi hari sering terjadi gempa kecil di kosan karena penghuninya kesiangan berangkat kuliah.
Mengaduk-aduk tas di depan kosan karena mencari kunci gerbang.
Isi lemari jadi berantakan saat mencari buku tabungan.
Pake baju dan kerudung agak kusut karena belum disetrika padahal udah harus pergi.
Sarapan makan mie, makan siang mie, makan malam mie juga.
Habis olahraga, badan masih panas, malah minum es.
Bikin kaligrafi seharian sampai lupa makan.
Ngerjain e-learning sampai lupa tidur.
Fesbukan seharian sampai melalaikan banyak hal.
Cucian numpuk, baju di lemari nyaris habis.
Dompet ketinggalan di kosan.
Waktu mabit di rumah teman sikat gigi ketinggalan, jadi harus beli yang baru.
Riweuh nyari peniti dan pin.
Buku catatan kalkulus tidak bisa dibaca oleh orang lain saking abstraknya.
Kehilangan buku Hiskia Ahmad sehingga harus beli buku baru.
Janji-janji terlupakan karena tidak ditulis.
Ide-ide terlupakan juga karena tidak ditulis.
Pengeluaran tidak ditulis sehingga tahu-tahu uang habis.
Amanah banyak, tapi semuanya berantakan.
Terlibat di berbagai organisasi tetapi hanya berkontribusi serabutan.
Punya banyak teman tapi sering diabaikan.
Punya utang tapi lupa bayar.
Materi ujian banyak tapi waktu belajar tinggal satu malam.
Amalan harian tidak dicatat sehingga mempersulit evaluasi.
Adik-adik pada kabur karena tidak ditransferkan dengan baik dan benar.
Kepanitian terancam bubar karena personelnya pada kabur.
Salah kirim sms karena database berantakan.
Terlambat hadir dalam suatu pertemuan karena lelet.
Oh… Stop-stop-stop. Semua itu gambaran gw banget.
Hmm… Semua hal tersebut mungkin bisa diminimalisasi jika kita RAPI.
RAPI, tidak hanya secara lahir tetapi secara batin juga.
Rapi ilmunya, rapi amalnya.
Rapi sandang, pangan, papan.
Rapi dalam manajemen waktu.
Rapi dalam meng-handle amanah.
dan tentu saja RAPI dalam bervisi-misi.
(ah, tulisan ica sering berakhir nggak jelas gini)