Menunggu Bapak Ganteng

Ini hanya cerpen biasa, yang dibuat semasa SMA (euleuh!!!). Jika ada kesamaan tokoh, tempat, dan peristiwa, itu hanyalah rekayasa.

Setiap kali menatap foto itu, pasti lamaaaaaa… sekali. Soalnya saya suka sekali wajah di foto itu. Ganteng, gagah, berwibawa… hohoho….
Juga kali ini, saat Pak Mamat sedang menuliskan soal-soal matematika di papan tulis, saya lebih senang menatap lurus ke depan dengan sedikit mendongak, menatap Si Bapak Ganteng. Kalau Pak Mamat memergoki saya tidak memerhatikan pelajaran, tinggal menurunkan pandangan sedikit, dari potret pak presiden ke tulisan ukir Pak Mamat. Aman kan…
“Neneng, kerjakan soal nomor satu!” perintah Pak Mamat. Saya maju lalu mengambil sepotong kapur tulis. Sebelum mulai menulis, saya sempatkan memberikan senyum termanis pada pak presiden. Kalau merasa soal itu sulit, saya akan memandang pak presiden, lalu soal itu mudah saja saya selesaikan. Kemudian Pak Mamat akan bilang kalau saya anak yang pandai. Hehehe…
Ah, rasanya ingin sekali segera ujian nasional. Biar bisa sekolah di SMP kota, biar bisa sekolah pakai kerudung, soalnya saya dengar pak presiden itu orangnya sholeh. Pasti beliau suka sama anak perempuan yang kerudungnya rapi. Pokoknya, kalau saya sudah besar nanti saya harus ke kota!!
…………………………………..
Semakin hari saya semakin kagum sama pak presiden. Hari ini wajah beliau menghiasi halaman muka koran sebagai pahlawan penyelamat ekonomi Negara. Apa itu, ah entahlah saya tidak mengerti.
Tiap pagi saya giat berangkat sekolah. Walaupun harus menempuh berkilometer-kilometer jalanan cadas dan menyusuri sungai dan pematang, saya tidak merasa lelah karena begitu sampai di kelas pak presiden akan tersenyum menyambut saya. Karena itu pula, sebelum masuk kelas saya selalu merapikan baju seragam dan mengelap sepatu yang lusuh belepotan debu. Tak lupa saya menyisir rambut dan mengepangnya supaya tampak cantik saat bertemu pak presiden.
Oh ya, saya anak paling rajin menyapu kelas, lho!! Saya kan selalu datang paling awal, saat lampu di ruangan pak kepala sekolah belum dimatikan. Saya senang, selesai menyapu pak presiden akan tersenyum seraya berkata, “terima kasih, kamu adalah anak yang baik.”
Saya semakin giat belajar karena ujian nasional semakin dekat. Pak presiden akan mengawasi saya saat belajar dan kalau mengalami kesulitan saya tinggal mendongak, lalu soal-soal itu terasa mudah.
…………………………………………….
Tadi pagi saya mendengar dari radio bahwa pemerintah akan memberikan bantuan kepada sekolah-sekolah yang berada di daerah terpencil. Saya memimpikan bapak presiden datang k sekolah untuk memberikan uang yang banyak. Soalnya sekolah saya jelek, sih! Lihat saja lapangannya yang becek, kalau hujan kami tidak bisa upacara dan bermain di sana. Terus lihat deh ruangan kelasnya! Kumuh sekali. Jangan harap kalian akan menginjak keramik karena lantai sekolah saya hanyalah tembok yang setiap kali saya sapu, debunya semakin banyak.
Jendela kelas kami tidak berkaca, kalau hujan deras kami akan menggigil kedinginan dan baju-baju serta baju-baju kami akan basah terkena bocoran air hujan dari atap yang bocor. Dinding juga bolong-bolong, teman-teman saya yang punya pacar adik kelas suka mengirim surat lewat lubang-lubang itu. Hihi.. romantis.
Pak presiden, datang dong ke sekolah saya! Tolong tegur para guru yang sering terlambat atau malah tidak masuk sama sekali. Ya, saya tahu mereka sibuk mencari tambahan karena katanya gaji dari bapak tidak cukup. Bapak belum tahu ya, kepala sekolah saya pulang sekolah harus keliling kampung jualan batik!
Pokoknya bapak harus datang bawa uang yang banyak! Saya rindu ingin bertemu bapak. Nanti saya akan mencium tangan bapak, lalu saya kenalkan pada emak. Emak pasti senang kalau gubuk kali dikunjungi orang hebat seperti bapak.
Nanti saya ajak bapak keliling kampung. Kita main ke sawah, biar bapak tahu rasanya naik kerbau. Mobil bapak simpan saja di kantor kepala desa, soalnya jalan di kampung saya belum diaspal, takut mobil bapak rusak.
………………………………………..
Setiap hari saya selalu menunggu kedatangan bapak, tapi kok bapak tidak muncul juga? Apa bapak sibuk mengurus rakyat? Baiklah, nanti kalau bapak cuti tolong sempatkan mengunjungi kampung saya, ya! Saya tunggu, lho!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.