Waktu bongkar-bongkar lemari di rumah, Ica menemukan gelang-gelang mainan berwarna perak. Hm.. itukan gelang-gelang yang dipakai buat nari waktu SD dulu.
Krincing… krincing… gemerincingnya menghadirkan dunia lain, dunia Ica kecil yang berwarna.
Terlahir sebagai putri pertama, Ica melengkapi kebahagiaan orangtuanya. Meskipun rada-rada galak, apapun yang dia minta selalu diusahakan oleh ayah dan ibunya.
Ica kecil senang sekali bermain ayunan, naik komidi putar, menangkap capung, melipat origami, menggambar, berenang di sungai, memetik buah pacar cina, bermain drama boneka, menggali sumur-sumuran, bermain congklak, bermain petak umpet, tanding loncat tinggi, juga mendengarkan cerita Si Kabayan dari kakek.
Ica kecil punya banyak waktu luang untuk membaca. Ya, membaca apapun. Tentang ini Budi, Cinderella, Joko Tingkir, sampai Jejak Langkah Soeharto. Jadi wajar, saat teman-teman baru mengenal “kata Ibu”, Ica sudah menggunakan “ujar dia” dan “cetusnya”.
Bapak sering mengajak Ica jalan-jalan naik motor ke kampung-kampung, mngunjungi rumah-rumah penduduk, atau sering juga kebut-kebutan ke pantai. Mamah suka sekali menjahit pakaian anak-anak, dan Ica dengan senang hati memakai gaun cantik buatan Mamah (itulah cara cerdas Mamah membuatku senang memakai rok).
Jika naik motor, Ica ingin di depan. Benar-benar bocah yaa.. kalau naik vespa, ica berdiri seperti anak kucing dalam keranjang.
Ica kecil begitu bebas terbang kesana kemari., hinggap di bunga manapun yang ia sukai. Ica kecil begitu ceria menyapa dunia yang berwarna. Ia punya orangtua yang mengasihinya, guru-guru yang ramah, teman-teman yang menyenangkan, tempat tinggal yang layak, buku cerita yang banyak…. Singkat kata, sederhana dan bahagia.
Kawan, mungkin masa kecilmu jauh lebih sempurna, jauh lebih hebat. Kecil-kecil sudah keliling dunia. Tidak banyak kawan, yang melewati masa-masa emas itu dengan bahagia!!
Pelan, “Si Alif Kecil – Snada” yang mengalun dari laptop membawaku kembali ke dunia saat ini.
Ketika malam datang mencekam
Kulihat si Alif kecil yang malang
Duduk tengadah ke langit yang kelam
Meratapi nasib diri
Kilat menyambar hujanpun turun
Semakin basah hatinya yang resah
Kapankah semua ini kan berakhir
Di jalanan penuh duri
Reff :
Ya Allah tunjukkan jalan-Mu
Pada si Alif kecil
Agar ia dapat menahan cobaan
Dan rintangan yang datang menghadang
Yaa Allah kuatkan hati
Pada si Alif kecil
Agar terbebas dari tirani
Menuju cahya Illahi…
Menuju cahya Illahi…
Ah, apakah si Alif kecil itu pernah ceria mengejar kupu-kupu?
Apakah mereka punya teman sebaya yang mengajaknya menerbangkan layangan?
Apakah mereka berkesempatan mengeja alif ba ta?
Apakah mereka pernah tidur di kasur busa?
Apakah jika lebaran mereka dibelikan baju baru?
Apa mereka ingat berapa usianya?
Apa mereka ingat kapan terakhir kali makan enak?
Padahal mereka layak, mereka berhak… memiliki dunia seperti dunia Ica.